'>'>Tertolak bukan ditolak, Sopir Bus ingin jadi pilot · Motor Penggerak -->

Tertolak bukan ditolak, Sopir Bus ingin jadi pilot

Monday, 3 August 2020, 11:57
Fathullah Uday
Pekan kemarin, ada gejala sosial yang memakai simbol simbol agama, sebuah kejadian yang tak begitu viral dan sebenarnya bukan persoalan namun ada yang salah kamar.

Bagaimana tidak, ada seseorang yang mau membangun pesantren tahfidz dengan ujuk ujuk di Bumi Shalawat Nariyah yang masyarakatnya mayoritas adalah warga NU dan Santri, dan seseorang tersebut merupakan dai yang terkenal dengan menyampaikan kata kata yang tak pantas diucapkan seorang dai bahkan dalam sebuah video di youtube dia sering menghujat tokoh tokoh NU.

Disini, sangat jelas jika tertolak bukan ditolak, manakala memakai logika sehat tanpa tedensi syai'un - syai'un.

Baca juga :
Biografi Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah Muassis Nahdlatul Ulama'

Analoginya begini, ada seorang sopir bus jurusan surabaya jakarta ingin pindah haluan menjadi seorang pilot, namun sang sopir bus ini, sebelumnya tidak pernah memiliki kehalian dalam menerbangkan pesawat. Kira kira sang sopir bus ini bisa atau tidak menerbangkan pesawat?
Bagaimana perasaan para penumpang yang sudah tau kalau yang akan menerbangkan pesawat adalah sopir bus?

Jika demikian, maka urusan seperti ini akan kacau. Bukankah Islam sudah mengajarkan bahwa segala urusan agar diserahkan pada ahlinya. Karena jika tidak akan menunggu saat kehancurannya.

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Nabi Muhammad SAW : Idza Wusidal Amru Ila Ghairi Ahlihi Fantadziri Sa’ah (jika suatu urusan diserahkan bukan pada ahlinya maka tunggulah kehancurannya).

Baca juga :
Nabi Ibrahim dan Nahdlatul Ulama'

Kedua, masalah pro kontra, disini justru yang digoreng renyah persoalan menolak pesantren oleh mereka atau kelompok pemerhati mereka khususnya di Medsos, pandangan penulis ini salah total.

Karena tradisi yang dianut masyarakat Situbondo tidak begitu, bahkan warga akan menyambut riang gembira kalau ada sebuah pesantren. Namun yang menjadi masalah yakni kualifikasi dari sang pengasuhnya yang perlu dicurigai. Sangat kontra produktif dengan ajaran yang sudah lama tertanam di kota santri.


Penulis : Fathullah Uday
salah satu santri langgeren

TerPopuler